Memahami Soal Passive Voice dalam Hubungan: Panduan Lengkap untuk Pemula

Passive voice sering kali menjadi bagian yang membingungkan dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama ketika kita ingin menggunakannya dalam konteks hubungan atau relationship. Meski terkesan teknis, memahami passive voice dapat membantu Anda lebih baik dalam berkomunikasi, terutama saat mengekspresikan perasaan, pengalaman, atau situasi yang tidak langsung Anda lakukan. Artikel ini akan membahas soal passive voice dengan cara yang mudah dipahami dan contohnya yang relevan dalam konteks hubungan.

Apa itu Passive Voice?

Passive voice adalah struktur kalimat di mana subjek menerima aksi daripada melakukan aksi tersebut. Dalam kalimat active voice, subjek melakukan tindakan, sedangkan dalam passive voice, subjek menjadi objek yang dikenai tindakan. Contohnya:

  • Active: He writes a letter. (Dia menulis surat.)
  • Passive: A letter is written by him. (Surat ditulis olehnya.)

Dengan kata lain, passive voice menekankan objek atau penerima tindakan daripada pelaku tindakan.

Mengapa Passive Voice Penting dalam Hubungan?

Dalam konteks hubungan, passive voice sering digunakan untuk membicarakan perasaan, pengalaman, atau kejadian tanpa harus menyebutkan pelaku secara langsung. Ini bisa menjadi cara yang lebih halus atau diplomatis untuk mengekspresikan sesuatu. Contohnya:

  • “I was hurt by your words.” (Saya terluka oleh kata-katamu.)
  • “Apologies were given.” (Permintaan maaf telah diberikan.)

Pernyataan seperti ini sering muncul saat membahas masalah, perasaan, atau kejadian yang terjadi dalam sebuah hubungan. Passive voice memungkinkan kita untuk fokus pada perasaan atau kejadian itu sendiri, tanpa menuduh langsung.

Struktur Dasar Passive Voice

Secara umum, passive voice dibentuk dengan rumus:

Subject + to be (am/is/are/was/were) + past participle + (by + agent)

Keterangan:

  • Subject: penerima aksi
  • To be: kata kerja bantu disesuaikan dengan tense
  • Past participle: bentuk ketiga dari kata kerja (e.g., written, eaten, done)
  • Agent: pelaku aksi, biasanya diawali kata “by”, namun bisa dihilangkan bila tidak penting

Contoh dalam konteks hubungan:

  • “The letter was written by her.”
  • “The message is being sent.”

Contoh Soal Passive Voice dalam Hubungan

Soal 1: Ubah kalimat active ke passive voice

Active voice: “She loves him.”

Jawaban:

Passive voice: “He is loved by her.”

Penjelasan: Subjek asal “She” yang melakukan tindakan, dan objek “him” menjadi subjek dalam kalimat passive. Karena kalimat asli present simple, maka to be-nya “is”.

Soal 2: Lengkapi kalimat passive voice

“The apology __________ (give) by him yesterday.”

Jawaban yang tepat:

“The apology was given by him yesterday.”

Penjelasan: Kalimat ini menggunakan past simple, jadi bentuk to be yang dipakai adalah “was” dan kata kerja past participle “given”.

Soal 3: Tentukan tense dan buat kalimat passive voice

Active voice: “They are planning a surprise party.”

Jawaban:

Passive voice: “A surprise party is being planned by them.”

Penjelasan: Karena kalimat memakai present continuous, maka to be-nya dalam passive voice menjadi “is being” dan past participle “planned”.

Cara Mudah Membedakan Active dan Passive Voice

Bagi pemula, membedakan active dan passive voice bisa membingungkan. Berikut beberapa tips mudah:

  1. Tanyakan siapa yang melakukan aksi. Jika subjek kalimat melakukan aksi, maka active voice. Jika subjek menerima aksi, maka passive voice.
  2. Perhatikan kata kerja bantu. Passive voice selalu menggunakan bentuk to be + past participle.
  3. Cek ada tidaknya kata “by”. Biasanya di passive voice ada frase “by” diikuti oleh pelaku aksi, walau bisa dihilangkan.

Misalnya kalimat: “He broke the vase.” (Active) dan “The vase was broken by him.” (Passive)

Aplikasi Passive Voice dalam Percakapan Sehari-hari Tentang Relationship

Passive voice sangat berguna ketika Anda ingin menyampaikan informasi tanpa menuduh atau menyalahkan langsung. Contoh percakapan:

A: “Why didn’t you reply to my message?”

B: “Sorry, your message was seen but I didn’t have time to reply.”

Atau saat membicarakan pengalaman:

“I was hurt by what you said yesterday.”

Ungkapan tersebut menunjukkan perasaan tanpa langsung menunjuk pelaku secara kasar, sehingga komunikasi menjadi lebih halus dan konstruktif.

Latihan Soal Passive Voice dalam Hubungan

Coba ubah kalimat active di bawah ini menjadi passive voice:

  1. “He promised to be faithful.”
  2. “She forgave him.”
  3. “They will cancel the date.”

Jawaban:

  1. “A promise to be faithful was made by him.”
  2. “He was forgiven by her.”
  3. “The date will be cancelled by them.”

Latihan seperti ini membantu membiasakan penggunaan passive voice dalam konteks yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Passive Voice dan Cara Menghindarinya

Berikut adalah beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Mengabaikan tense dalam kalimat passive: Pastikan to be disesuaikan dengan waktu kalimat.
  • Terlalu sering menggunakan passive voice: Gunakan passive voice bila memang ingin menonjolkan objek atau menghindari menyebut pelaku.
  • Lupa menggunakan past participle: Kata kerja di passive voice harus bentuk ketiga (past participle).

Misalnya: “The letter is wrote by her.” Salah, karena “wrote” bukan past participle. Yang benar: “The letter is written by her.”

Kesimpulan

Soal passive voice memang kadang membuat bingung, tapi dengan memahami struktur dan fungsinya dalam konteks hubungan, Anda dapat lebih mudah menggunakannya. Passive voice tidak hanya soal tata bahasa, tapi juga cara halus untuk menyampaikan perasaan dan informasi dalam relationship. Latihan secara rutin, memperhatikan tense, dan fokus dalam arti kalimat akan membantu Anda menguasainya. Wikipedia Bahasa Indonesia

FAQ Tentang Soal Passive Voice dalam Hubungan

Apa perbedaan utama antara active dan passive voice dalam konteks hubungan?

Active voice menekankan siapa yang melakukan aksi, sedangkan passive voice menekankan apa yang terjadi atau yang diterima oleh subjek. Dalam hubungan, passive voice biasanya digunakan untuk menyampaikan perasaan atau kejadian tanpa menuduh langsung.

Kapan sebaiknya menggunakan passive voice dalam komunikasi sehari-hari tentang hubungan?

Gunakan passive voice ketika Anda ingin fokus pada kejadian atau perasaan tanpa menyalahkan seseorang secara langsung, atau saat pelaku aksi tidak penting untuk disebutkan.

Bagaimana cara mengetahui bentuk past participle dari kata kerja?

Past participle biasanya merupakan bentuk ketiga dari kata kerja. Untuk kata kerja beraturan, cukup tambahkan “-ed” (misal: love → loved). Untuk kata kerja tidak beraturan, Anda perlu menghafalnya (misal: write → written, break → broken).

Apakah bisa menghilangkan “by” dan pelaku dalam passive voice?

Bisa, terutama jika pelaku tidak penting atau sudah diketahui. Contoh: “The message was sent.” Tanpa menyebutkan siapa yang mengirim.

Apakah passive voice selalu lebih formal daripada active voice?

Tidak selalu. Passive voice memang cenderung lebih formal dan netral, tapi dalam konteks hubungan, kadang digunakan untuk melembutkan kalimat supaya terdengar lebih halus dan sopan.

One thought on “Memahami Soal Passive Voice dalam Hubungan: Panduan Lengkap untuk Pemula

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *